IHSG sedang terpuruk, peluang untuk mulai mencicil beli saham potensial.


Memang benar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang terpuruk, namun peluang turunnya Indeks bisa dimanfaatkan untuk mulai mencicil beli beberapa saham yang telah merilis laporan keuangan full year 2019 kemarin.salah satu saham yang cukup potensial adalah saham Indosat (ISAT) sebagai salah satu emiten yang cukup familiar di sektor telekomunikasi. Lalu mengapa ISAT bukan saham telekomunikasi yang lain? Beberapa pertimbangan ialah:

Baca juga : Performa SIDO di 2019
  •  Dibandingkan peers (pesaing) industri, saham ISAT paling murah secara valuasi Price Earning Ratio (PER), Di 2019, ISAT membukukan untung Rp 1.63 triliun dari rugi di tahun sebelumnya Rp 2 triliun, 
  • Hasil Earing Per Share (EPS) ISAT di 2019 tertinggi dalam enam tahun terakhir, dimana EPS 2019 Rp 289 perak. Ketika ISAT mencetak laba bersih, maka ketika itu pula ISAT akan membagikan dividen. 
  • Berdasarkan data historis, ISAT selalu membagikan rasio dividend payout sekitar 34%-35% dari laba bersihnya. 
  • Jika kita mengikuti perkembangan berita, ISAT telah melakukan program pensiun dini untuk 677 karyawannya, sementara di laporan keuangan 2019 lalu, beban karyawan berhasil susut sekitar 13% (yoy), dan ini tentunya akan memperkuat pendapatan operasional ISAT, 
  • di sisi lain ISAT juga memperoleh berkah pendapatan dari hasil jual menara sekitar Rp 2 triliun. Penjualan menara bisa jadi tidak akan selalu terjadi setiap tahun, namun ongkos biaya yang berhasil di irit dari beban karyawan akan memberikan ruang untuk pos pendapatan operasional yang lebih longgar dan artinya margin akan besar, secara efek di bottom line ISAT sudah pasti akan positif.   


Kinerja Harga Saham ISAT Dalam Lima Tahun Terakhir 

Baca juga : Daftar saham Bursa Efek Indonesia (BEI)

Segmen Pendapatan Layanan Data Cukup Kuat 
 Pada tabel di atas, kita dapat lebih spesifik melihat kinerja pendapatan ISAT, secara umum pendapatan ISAT terbagi menjadi tiga bagian, yakni: Selular, Multimedia Interactive, data & Internet (MIDI) serta Fixed Telco. Dari ketiganya hampir 90% di kontribusi oleh segmen Selular, dimana ISAT sangat berharap dari layanan data yang sudah dikenal sebagai layanan utama diluar layanan legacy (telepon dan sms). Yang patut di lihat secara cermat ialah, pada bagian MIDI, ISAT mulai memperkuat jasa IT dan pembayaran elektronis yang nilainya naik hampir 60% (yoy) di 2019. Jika ini terus berlanjut, maka segmen bisnis MIDI akan menjadi motor pendapatan bagi ISAT selain dari bisnis layanan data sebagai pendapatan utama ISAT di masa depan.

 Sekilas mengenai bisnis MIDI ISAT: 
MIDI merupakan layanan bagi klien enterprise, bisnis ini sebagian besar dijalankan oleh anak usaha ISAT yakni Lintasarta dan IM2. ISAT memandang segmen pasar UKM ke depan akan semakin menggunakan layanan ini, selain tentunya klien yang telah existing seperti wholesale dan korporasi. 

  
Jika melihat target harga analis yang mencover saham ISAT, kita bisa menggunakan versi harga Median atau nilai tengah dari satu ukuran pemusatan data, maka target harga saham ISAT ada di harga Rp 3,360/saham, atau masih ada ruang kenaikan sekitar +64% dari penutupan harga saham ISAT per (28/02) di harga Rp 2,040/saham.