Pengertian dan Makna Hari Raya Idul Fitri

Pengertian dan Makna Hari Raya Idul Fitri

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin,yaitu hari raya idul fitri.sungguh beruntung orang-orang yang telah mensucikan hatinya dan sungguh merugi,orang-orang yang telah mengotori hatinya.”beruntung”karena selama satu bulan penuh telah mensucikan hatinya dengan memerangi hawa nafsu dan kesenangan duniawi, bulan romadhon merupakan bulan yang penuh maghfiroh,rahmah,dan dikabulkannya do’a,dimana kita diberi kesempatan oleh ALLOH swt,untuk meningkatkan amal dan ibadah kita.”merugi” karena selama satu bulan tidak meningkatkan amal dan ibadah kepada ALLOH SWT,sungguh rugi,dan rugi bagi mereka yang hanya mengikuti nafsu dan kesenangan duniawinya saja,sehingga hatinya kotor.ALLOH swt telah memberi bulan romadhon sebagai bulan yang mulia dan barokah meskipun dari segi duniawi melimpah ruwah,namun secara haqiqi tetap merugi dan merugi karena tidak menerima pemberian rahmat dari ALLOH berupa kesehatan dan kesempatan untuk meningkatkan amal ibadah kepada ALLOH SWT.
          Dinamakan idul fitri,karena
ALLOH mengembalikan hamba-NYA kepada kebaikan dan kebahagiaan,khusunya ALLOH telah mengampuni dosa-dosa hamba-NYA yang telah menggunakan bulan romadhon sebagai bulan untuk meningkatkan ibadah kepada ALLOH,dengan demikian dikatakan “Laisa I’ed,liman labisa jadid”
        Hari raya idul fitri,bukan untuk orang yang pakaiannya baru,kendaraannya bagus,ataupun makanan yang beraneka macam,akan tetapi hari raya idul fitri adalah bagi orang yang senantiasa meningkatkan taqwanya kepada ALLOH,dan bagi orang-orang yang dosanya telah diampuni.
        Dalam menyambut hari raya idul fitri,warga NU meyambutnya dengan tradisi “bodo kupat”dengan beraneka lauk pauknya.juga dalam melaksanakan sholat sunat ied,warga NU memilih untuk sholat sunat di masjid,karena  masjid adalah tempat yang paling utama untuk mengerjakan sholat.juga bisa untuk sholat takhiyyatul masjid,dan juga bisa mengerjakan I’tikaf.kecuali masjid sudah tidak muat lagi untuk sholat berjamaah,itupun pindah ke musholla.

وَالسُّنَّةُ اَنْ يُصَلِّيَ الْعِيْدُ فِى الْمُصَلَّى اِذَا كَانَ مَسْجِدُ الْبَلَدِ ضَيِّقًا لِمَارُوِيَ اَنَّ النَّبِيَّ صلى اللّٰهُ عليه وسلّم كَانَ يَخْرُجُ اِلٰى الْمُصَلّٰى اِلٰى اَنْ قَالَ:لِمَا رُوِيَ اَنَّ عَلِيًّا رضي اللّٰه عنه اِسْتَخْلَفَ اَبَا مَسْعُودٍ الْاَنْصَارِيُ رضي اللّٰه عنه لَيُصَلِّيْ بِضِعْفَةِ النَّاسِ فِى الْمَسْجِدِ





Disunatkan sholat ied di musholla ketika masjid suatu negara sempit.karena berdasarkan riwayat bahwa sesungguhnya nabi SAW pernah keluar ke musholla sampai kalimat diriwayatkan. sesungguhnya Ali RA berbeda  dengan Abu mas’ud al-anshory yang sholat bersama sebagian orang di masjid (al majmu’ li an-nawawi juz V hlmn 5)
وَاِنْ كَانَ الْمَسجِدُ وَاسِعًا فَالصَّحِيْحُ اَنَّ الْمَسجِدَ اَوْلٰى
Kalau masjidnya luas,maka yang lebih utama sholat di masjid (kifayah al-akhyar juz 1 hlmn 96)

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رضى اللّٰه عنه اَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صْلَّي اللّٰه عليه وسلّم قَالَ: الاَ اَدُلُكُمْ عَلٰى مَا يَمحُ اللّٰهُ بِهِ الخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتُ؟ قَالُو بَلَى يَا رَسُولَ اللّٰه قَالَ:اِسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلىَ الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا اِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذٰ لِكُمْ الرِّبَاطُ فَذٰلِكُم الرِّبَاطُ (رواه مسلم
Dari abu huroiroh,Rosululloh Saw bersabda: Maukah kalian saya tunjukkan sesuatu yang ALLOH berkenan akan menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat kalian?? Para sahabat menjawab:kami mau ya Rosulalloh.lalu Nabi bersabda:sempurnakan wudhu,meskipun keadaan kurang menguntungkan,sering-seringlah pergi ke masjid dan selalu setia menunggu waktu sholat. Percayalah ,semua itu bisa menjadi pengikat komitmen kalian (HR muslim)

           Segenap team redaksi MUTIARA NU,mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1433H,Mohon maaf lahir dan bathin “ja’alanallohu wa iyyakum minal a’idin wal faizin”….kini kami hadir kembali dihadapan  pemerhati mutiara NU,sebagai penyejuk jiwa dan penyubur iman,sesuai dengan bulan syawal yang artinya peningkatan amal sholikh,sebab tanpa adanya peningkatan amal sholikh,ibarat orang dagang adalah “rugi”,sedang rugi akhirat tiada batasnya